Sumba :
Seorang warga negara Prancis menghabiskan seluruh tabungannya untuk membangun
sumur-sumur di suatu desa di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama 7
tahun pilot balon udara ini tinggal membaur bersama masyarakat miskin di desa
terpencil tersebut.
Bagi banyak warga Sumba, NTT, seperti di Desa Waru Wora ini air bersih adalah barang mewah. Di kawasan ini, secara harfiah, wanita dan anak-anak harus berjuang naik turun gunung untuk mendapat sedikit air.
Di musim kemarau, genangan rawa kotor pun jadi sumber air untuk mandi, mencuci hingga memasak. Kelangkaan air bersih membuat warga mudah terserang berbagai penyakit.
Untunglah, harapan mulai tampak di depan mata. Sekarang warga Waru Wora dan sekitarnya semakin mudah mendapat air bersih. Semua terjadi berkat Andre Graff, seorang warga negara Prancis. Sejak 7 tahun silam, Andre jadi motor pembangunan sumur di Waru Wora.
Titik balik hidup Andre terjadi pada 2004, saat terserang penyakit yang nyaris membuatnya lumpuh. Setelah menjual perusahaannya, Andre berlibur ke Bali dan ke Sumba. Tak lama kemudian Andre jatuh cinta pada kehidupan Sumba. Akhirnya ia rela meninggalkan suasana nyaman di Prancis demi membantu warga Sumba untuk mendapat air bersih.
Pada 2005, Andre membangun sumur pertamanya. Modal yang dignakan berasal dari hasil penjualan aset pribadi, serta sedikit sumbangan beberapa temannya. Biaya pembuatan satu sumur sekitar Rp 40 juta.
Sekitar Rp 500 juta tabungan Andre habis digunakan membangun sumur. Tak tersisa lagi dana. Bahkan, untuk membeli kaca mata baru saja tidak ada uang tersisa. Tak hanya itu, dia juga tidak cukup dana untuk mengobati penyakitnya sendiri, arteriosklerosis.
Andre kini tinggal di rumah sederhana di tanah hasil sumbangan penduduk setempat. Dana untuk hidup sehari-hari diperoleh dari hasil menyewakan rumah kecilnya di Prancis. Untuk berhemat, Andre makan sayuran yang ditanam sendiri di kebun sebelah rumah.
Ini pun tidak mudah, karena Andre harus mengeluarkan Rp 22 juta tiap tahun hanya untuk memperpanjang izin tinggal di Indonesia. Kini, kantongnya kosong. Andre yang ramah dan peduli, jadi sangat dekat dengan warga Waru Wora. Penduduk desa memanggilnya dengan sebutan kehormatan "amainudu", yang artinya orang yang peduli pada orang miskin.
Saat ini ke-28 sumur telah beroperasi. Dengan jaringan pipa bisa melayani
sekitar 30 ribu orang. Tapi Andre belum berhenti. Jumlah sumur akan terus
ditambah dan dilengkapi dengan pompa bertenaga surya. Ke depan, Andre punya
sejumlah impian, yaitu membuat air sumur langsung layak minum hingga membuat
sarana sanitasi memadai untuk warga.
Bagi banyak warga Sumba, NTT, seperti di Desa Waru Wora ini air bersih adalah barang mewah. Di kawasan ini, secara harfiah, wanita dan anak-anak harus berjuang naik turun gunung untuk mendapat sedikit air.
Di musim kemarau, genangan rawa kotor pun jadi sumber air untuk mandi, mencuci hingga memasak. Kelangkaan air bersih membuat warga mudah terserang berbagai penyakit.
Untunglah, harapan mulai tampak di depan mata. Sekarang warga Waru Wora dan sekitarnya semakin mudah mendapat air bersih. Semua terjadi berkat Andre Graff, seorang warga negara Prancis. Sejak 7 tahun silam, Andre jadi motor pembangunan sumur di Waru Wora.
Titik balik hidup Andre terjadi pada 2004, saat terserang penyakit yang nyaris membuatnya lumpuh. Setelah menjual perusahaannya, Andre berlibur ke Bali dan ke Sumba. Tak lama kemudian Andre jatuh cinta pada kehidupan Sumba. Akhirnya ia rela meninggalkan suasana nyaman di Prancis demi membantu warga Sumba untuk mendapat air bersih.
Pada 2005, Andre membangun sumur pertamanya. Modal yang dignakan berasal dari hasil penjualan aset pribadi, serta sedikit sumbangan beberapa temannya. Biaya pembuatan satu sumur sekitar Rp 40 juta.
Sekitar Rp 500 juta tabungan Andre habis digunakan membangun sumur. Tak tersisa lagi dana. Bahkan, untuk membeli kaca mata baru saja tidak ada uang tersisa. Tak hanya itu, dia juga tidak cukup dana untuk mengobati penyakitnya sendiri, arteriosklerosis.
Andre kini tinggal di rumah sederhana di tanah hasil sumbangan penduduk setempat. Dana untuk hidup sehari-hari diperoleh dari hasil menyewakan rumah kecilnya di Prancis. Untuk berhemat, Andre makan sayuran yang ditanam sendiri di kebun sebelah rumah.
Ini pun tidak mudah, karena Andre harus mengeluarkan Rp 22 juta tiap tahun hanya untuk memperpanjang izin tinggal di Indonesia. Kini, kantongnya kosong. Andre yang ramah dan peduli, jadi sangat dekat dengan warga Waru Wora. Penduduk desa memanggilnya dengan sebutan kehormatan "amainudu", yang artinya orang yang peduli pada orang miskin.

kenapa gak haruz orang indo sh ..
BalasHapuskasihann....
s
BalasHapus